Sorong, 10 Juli 2025 – Mahasiswa Program Studi Agribisnis Angkatan 2023 Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong melaksanakan kegiatan praktik lapangan ke Rumah Etnik Papua yang terletak di Jalan Baru, Jl. Raya Aimas-Klamono KM 21, Malawili, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Kewirausahaan dan Studi Kelayakan Bisnis yang dibimbing oleh dosen pengampu, Ibu Aldila Mawanti Athirah, M.Si.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mendengar langsung kisah inspiratif dari pemilik Rumah Etnik Papua, Ibu Mitshi Wanma, seorang perempuan tangguh dan inspiratif asli Papua. Dalam sesi berbagi, beliau menceritakan bagaimana usaha Rumah Etnik Papua lahir di tengah masa sulit pandemi COVID-19. Saat sektor pariwisata dan perdagangan mengalami kemunduran drastis, dan penjualan suvenir khas Papua yang ia jalankan di kawasan Tembok Berlin dan Ramayana Sorong pun merosot karena minimnya wisatawan, beliau justru melihat peluang dari keterbatasan.
Dengan memanfaatkan sebidang tanah miliknya di kawasan Malawili, Ibu Mitsi memutuskan untuk membangun sebuah tempat wisata budaya yang mengangkat kekayaan tradisi Papua. Dari sinilah lahir Rumah Etnik Papua, yang kini menjadi destinasi budaya yang dikenal luas, baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Inspirasi mendirikan tempat wisata budaya ini datang dari Wamena, sebuah daerah di Papua yang masih kuat mempertahankan budaya lokal, termasuk rumah adat dan pakaian tradisional. Ibu Mitsi ingin menghadirkan suasana serupa di Sorong, karena selama ini wisatawan kerap menanyakan di mana dapat melihat rumah adat Papua, namun tidak menemukannya dari Tanjung Kasuari hingga Malaumkarta. Hal ini mendorong beliau menciptakan tempat yang tidak hanya menjadi spot wisata, tetapi juga ruang edukasi budaya.
Dengan tekun dan semangat pantang menyerah, beliau memulai usahanya secara bertahap. Awalnya hanya ada dua rumah sederhana dengan fasilitas yang sangat terbatas, bahkan toilet pun dibuat dari seng bekas. Namun dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan kunjungan tamu dan memanfaatkan kekuatan media sosial, beliau mampu menambah bangunan satu per satu hingga berkembang seperti sekarang. Rumah Etnik Papua kini menjadi salah satu destinasi budaya yang tak hanya menyuguhkan estetika rumah adat, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Selain menjadi pusat pelestarian budaya, Rumah Etnik Papua juga berperan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi kreatif. Ibu Mitsi melibatkan masyarakat lokal untuk ikut serta dalam pengelolaan tempat wisata, pemanduan, serta produksi suvenir. Menurutnya, usaha yang baik bukan hanya tentang keuntungan pribadi, tetapi juga bagaimana bisa berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Ia juga menekankan pentingnya berinovasi dan tidak sekadar meniru usaha orang lain, karena keberhasilan hanya dapat dicapai jika usaha memiliki keunikan dan nilai tambah yang berkelanjutan.
Dalam kisah hidupnya, Ibu Mitsi juga menekankan pentingnya kemandirian. Meskipun berasal dari keluarga Pegawai Negeri Sipil, beliau memilih untuk tidak bergantung pada orang tua dan mulai mandiri sejak masih sekolah. Ia percaya bahwa rezeki harus diperjuangkan sendiri, dimulai dari nol, dengan kesiapan untuk bekerja keras, menghadapi kesulitan, dan terus belajar.
Kepada para mahasiswa, Ibu Mitsi menyampaikan bahwa modal besar bukan satu-satunya kunci sukses. Justru keberanian memulai, semangat untuk belajar, dan kemampuan melihat peluang adalah faktor utama dalam membangun usaha yang bertahan lama.
“Kalau usaha yang kita buat sama seperti usaha orang lain, maka harus ada inovasi. Kalau tidak, orang bosan dan cepat lupa. Usaha harus punya daya tarik dan beda dari yang lain,” ujar beliau.
Sebagai penutup, Ibu Mitsi memberikan pesan yang menyentuh dan menggugah semangat para mahasiswa:
“Kita yang ada di Papua ini, matahari terbit lebih dulu dibanding daerah barat. Seharusnya kita juga bisa maju lebih dulu. Jangan pernah putus asa. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Mata dua, telinga dua, semua sama. Yang penting adalah kemauan. Kalau kita punya kemauan, berusaha, dan terus belajar, kita pasti bisa berkembang. Jangan malu untuk belajar, jangan lupa berdoa, karena doa itu yang utama. Tapi jangan hanya duduk dan berharap, karena barang itu tidak akan jatuh dari langit. Harus kerja dan terus berupaya.”
Kegiatan praktik lapangan ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi mahasiswa Agribisnis. Mereka tidak hanya belajar aspek teknis kewirausahaan, tetapi juga mendapatkan inspirasi hidup, motivasi kuat, serta contoh nyata bagaimana budaya lokal dan kearifan masyarakat bisa menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Agribisnis Unimuda Sorong diajak untuk menyadari bahwa kesuksesan tidak selalu berawal dari sesuatu yang besar, tetapi dari keberanian untuk memulai, ketekunan dalam menghadapi tantangan, serta cinta terhadap potensi lokal. Rumah Etnik Papua menjadi bukti bahwa jika ada kemauan dan keberanian untuk bermimpi serta bertindak, maka usaha yang kecil sekalipun bisa tumbuh besar dan menginspirasi banyak orang. (F.A & A.F.Y)